Reloj Magico (Part 4)

Cerita Sebelumnya👈

Keesokan harinya arloji berputar cepat ke arah kiri. Zelina pun terbangun dari tidurnya, tanpa Zelina sadari kalau ia terbangun di kamar yang berbeda. Ia pun melanjutkan aktifitas seperti biasanya berangkat ke sekolah pada pagi hari tanpa merasa aneh. Sesampainya di sekolah Zelina baru tersadar kalau sekolahnya nampak berbeda.

Hingga tiba-tiba ada yang menepuk bahunya, Zelina terlonjak kaget. Lalu, ia menengok dan terkejut kala melihat seorang gadis cantik dengan rambut sebahu tersenyum manis padanya. Zelina nampak tidak asing dengan mata gadis itu, ia seperti pernah melihatnya. Tapi di mana?

“Hai, nama kamu siapa? Kamu murid baru ya?” Tanya gadis itu.

Zelina mengerutkan keningnya bingung, “Hah? Oh namaku Zelina.”

“Zelina? Tapi kenapa nametag di seragamu namanya Raya Maharani?” Ucap gadis dihadapannya.

Zelina terdiam, ia melihat nametag di seragamnya dan benar saja kalau yang tertulis adalah nama Raya. Tapi, nama Raya sangat tidak asing di pendengarannya. Zelina memutar otaknya dan tersadar kala tau Raya adalah nama sahabat ibunya. Selain itu, Zelina baru sadar ini adalah bangunan sekolahnya saat tahun 90-an.

Zelina mengambil cermin di tasnya lalu terkejut kala wajah berubah, ini adalah wajah Tante Raya sabahat mamanya saat masih muda. Zelina tentu tau karena pernah diberikan foto saat Ibunya dan Tante Raya masih sekolah dulu meski wajah ibunya tidak terlihat jelas. Ia baru sadar kalau yang berada dihadapannya saat ini adalah wajah ibunya.

“Terlihat cantik dan manis.” Ucap Zelina dalam hati. “Ibu ngapain disini?” Tanya Zelina dengan tatapan khawatir.

“Hah ibu? Ibu dari mana? Kamu kenapa sih?” Ujar ibunya.

“Mm-maaf, tapi kamu mirip sekali dengan ibuku. Baiklah namamu siapa?” Tanya Zelina dengan seceria mungkin.

“Oh ya, perkenalkan namaku Zeneb Ralein. Kamu bisa panggil aku Zeneb. Btw, kamu aneh, tapi senang berteman dengan mu.” Balas gadis tersebut.

“Zeneb? Seperti nama ibu. Apakah benar ini Ibu?” Ucap Zelina dalam hati.

“Oh ya, nama Zelina tadi sangat bagus. Aku berniat suatu hari akan memberikan nama itu pada anakku hahaha…” ucap gadis tersebut seraya tertawa.

Zelina ikut tersenyum dan berucap dalam hati, “Nama putrimu memang Zelina Bu.”


Saat pelajaran dimulai Zelina menatap wajah Zeneb yang merupakan Ibunya. Zelina terus-menerus menatap ibunya dari jauh yang kebetulan Zelina duduk di sebelah ibunya.

Guru yang sedang mengajar pun datang menghampiri Zelina, “Raya?! Apa kamu memperhatikan saya mengajar? ” Tanya guru tersebut.

“Euuu, tidak Pak saya kurang tidur semalam karena kecapean. Maaf…” Balas sang Zelina.

Guru tersebut hanya menggelengkan kepalanya, “Kali ini kamu masih saya toleransi, lain kali jangan harap kamu tidak dihukum.”

“Baik pak. Sekali lagi saya minta maaf.” Balas Zelina seraya meringis.

Ketika jam pelajaran sudah selesai dan bel istirahat sudah berbunyi. Zelina dan Zeneb alias ibunya bergegas ke kantin untuk membeli makanan karena perut yang sudah keroncongan.

“Zeneb kamu mau beli apa?” Tanya Zelina.

Ibunya Zelina hanya tersenyum, “Aku enggak deh Raya, aku lagi prosen diet hehe…”

“Diet? Badan kamu udah bagus loh.” Ucap Zelina.

“Masa sih? Kemarin aku liat aku naik satu kilo.” Alibi Ibunya Zelina.

Zelina hanya menganggukan kepalanya, sebenarnya merasa tidak yakin. Tapi, jika tidak mau kenapa harus dipaksa. Baru saja Zelina hendak berdiri untuk memesan makanan, perut teman disebelahnya berbunyi cukup keras. Siapa lagi kalau bukan Zeneb alias ibunya.

“Tuh kan kamu laper, kalau gitu aku pesenin makanan ya tenang aku yang bayar.” Ucap Zelina lalu pergi ke stand makanan.

Dalam hati kecilnya Zelina tau kalau ibunya sedang berbohong. Kenapa bisa begitu? Itu karena jika ibunya berbohong mata sang ibu terlihat tidak tenang, sejak kecil Zelina sangat tau itu. Tapi, ia tetap tidak mengerti kenapa ibunya harus berbohong.

Sejujurnya Zelina masih bingung kenapa ia bisa kembali ke masa ibunya masih muda. Zelina mengeluarkan arloji dari sakunya dan menatap arloji yang ia temukan waktu itu. Ia mengamati apakah ada perubahan di sana dan benar jarum jamnya berubah posisi. Zelina manatap arloji dan ibunya dari jauh secara bergantian.

“Bagaimana bisa?” Tanya Zelina dalam hati.

Cerita Selanjutnya…